Ketika saya disemester 1 atau semester 2 (lupa sendiri, hehe), saya diberikan tugas untuk membuat semacam paper tentang filotaksis. mulai deh saya mencari referensi terkait dan mulai merangkum dalam sebuah tulisan-tulisan ini… eits, jangan serba copy paste kawand… dibaca dulu + harus menggunakan referensi yang lebih baik dari saya.. oke… saya tunggu coment kalian yang membaca post saya ini…
Phyllotaxis/ Dispositio Foliorum
Tata Letak Daun Pada Batang (Phyllotaxis
atau Dispositio Foliorum). Bagian batang atau cabang tempat duduknya
daun disebut buku-buku batang (nodus). Dan bagian ini seringkali tampak
sebagai bagian batang yang sedikit membesar dan melingkar batang sebagai
suatu cincin, seperti pada bambu (Bambusa sp.), tebu (Saccharum
officinarum L.) dan semua rumput pada umumnya. Duduknya daun pada batang
memiliki aturan yang disebut tata letak daun. Untuk mengetahui
bagaimana tata letak daun pada batang, harus ditentukan terlebih dahulu
berapa jumlah daun yang terdapat pada suatu buku-buku batang, yang
kemungkinannya adalah :
A. Pada setiap buku-buku batang hanya terdapat satu daun
Dinamakan dengan folia sparsa (tersebar).
Walaupun dinamakan tersebar, apabila diteliti justru ditemukan adanya
hal-hal yang bersifat beraturan. Jika pada suatu tumbuhan, batangnya
kita anggap mempunyai bentuk silinder, maka buku-buku batang sebagai
lingkaran-lingkaran dengan jarak yang teratur pada silinder tadi, dan
tempat duduk daun adalah suatu titik pada lingkaran itu, maka Ketika
kita menjadikan satu titik (tempat duduk daun) sebagai suatu titik tolak
kemudian bergerak mengikuti garis yang ada diatasnya dengan jarak
terpendek, demikian seterusnya, kita akan sampai pada garis vertikal di
atas pangkal tolakan yang pertama. Kejadian seperti ini akan terus
berulang kembali, walaupun kita menggunakan daun yang lain sebagai titik
tolak.
Perbandingan antara banyaknya garis
spiral antara banyaknya kali garis spiral melingkari batang dengan
jumlah daun yang melewati selama sekian kali melingkar batang.
1) Rumus daun atau divergensi
Jika untuk mencapai daun yang tegak
lurus dengan daun permulaan garis spiral mengelilingi batang a kali, dan
jumlah daun yang dilewati selama itu adalah b, maka perbandingan kedua
bilangan tadi merupaka pecahan a/b.
2) Ortostik merupakan batang yang memiliki sejumlah b garis-garis tgak lurus (vertikal)
3) Spiral genetik adalah garis spiral yang merupakan suatu garis yang menghubungkan daun-daun berturut-turut dari atas ke bawah
4) Sudut divergensi
Pecahan a/b menunjukan jarak antar sudut
dua daun berturut-turut, apabila diproyeksikan pada bidang datar maka
jaraknya tetap dan besarnya a/b x besar lingkaran = a/b x 360o.
5) Deret Fibonacci
Tumbuhan dengan tata letak daun
tersebar, ternyata pecahan a/b nya, dapat terdiri atas pecahan-pecahan :
1/2, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dst. Angka-angka tersebut menunjukan
sifat :
ü Tiap suku dibelakang suku kedua (jadi
suku ketiga dst) merupakan suatu pecahan, yang pembilangnya dapat
diperoleh dengan menjumlah kedua pembilang dua suku yang ada di
depannya, demikian pula penyebutnya yang merupakan hasil penjumlahan
kedua penyebut dua suku yang di depannya tadi
atau
ü Tiap suku dalam deret itu merupakan
suatu pecahan yang penyebutnya merupakan selisih antara penyebut dan
pembilang suku yang di depannya, sedang penyebutnya adalah jumlah
penyebut suku yang didepannya dengan pembilang suku itu sendiri.
6) Roset (rosula)
roset adalah susunan daun yang melingkar dan rapat berimpitan. Menurut letaknya, ada dua macam roset yaitu ;
- roset akar, jika batang amat pendek, sehingga semua daun berjejal-jejal di atas tanah, jadi roset tersebut sangat dekat dengan akar. Contoh : lobak (Raphanus sativus L) dan tapak liman (Elephantopus scaber L)
- roset batang, jika daun yang rapat berjejal-jejal terdapat pada ujung batang, misalnya pada pohon kelapa (cocos nucifera L) dan berbagai macam palma lainnya.
Banyak suku tumbuhan yang memiliki
roset, umumnya ditemui pada suku Astraceae (contoh : dandelion) dan suku
Branssicaceae (contoh : kol)
7) mosaik daun
pada cabang-cabang yang mendatar atau
serong ke atas, daun-daun dengan tata letak tersebar dapat teraur
sedemikian lupa sehingga helaian-helaian daun pada cabang itu teratur
pada suatu bidang datar, dan membentuk suatu pola seperti mosaik (pola
karpet) susunan inilah yang disebut pola karpet. Susunan daun seperti
itu disebut mosaik daun.
B. Pada setiap buku-buku batang terdapat dua daun yang berhadapan
Pada setiap buku-buku terdapat 2 daun
yang berhadapan (terpisah oleh jarak sebesar 1800). Pada buku-buku
batang berikutnya biasanya kedua daunnya membentuk suatu silang dengan
dua daun yang dibawahnya tadi. Tata letak daun yang demikian ini
dinamakan : berhadapan-bersilang (folia opposita atau folia decussata),
contoh pada mengkudu (Morinda citrifolia L.), soka (Ixora poludosa Kurz.), dll.
C. Pada setiap buku-buku batang terdapat lebih dari dua daun.
Tata letak daun yang demikian ini dinamakan : berkarang (Folia verticillata),dapat a.l. ditemukan pada pohon pulai (Alstonia scholaris R.Br.), alamanda (Allamanda cathartica L.), oleander (Nerium oleander L.).
pada tumbuhan dengan tata letak daun berhadapan dan berkarang tak dapat
ditentukan rumus daunnya, tetapi juga duduk daun yang demikian dapat
juga diperlihatkan adanya ortostik-ortostik yang menghubungkan daun-daun
yang tegak lurus satu sama lain.
D. Bagan (skema) dan Tata Letak Daun
Tata letak daun pada batang ditempuh dengan dua jalan :
1) Membuat bagan atau skema letaknya daun
2) Membuat diagram
ü Bagan tata letak daun
Batang tumbuhan digambarkan sebagai
silinder dan padanya digambar membujur ortostikortostiknya demikian pula
buku-buku batangnya. Daun-daun digambar sebagai penampang melintang
helaian daun yang kecil. Pada bagan akan terlihat misalnya pada daun
dengan rumus 2/5 maka daun-daun nomor 1, 6, 11, dst atau daun-daun nomor
2, 7, 12, dst akan terletak pada ortostik yang sama.
ü Diagram tata letak daun atau disingkat diagram daun
Untuk membuat diagramnya batang tumbuhan
harus dipandang sebagai kerucut yang memanjang, dengan buku-buku
batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna. Pada setiap
lingkaran berturut-turut dari luar kedalam digambarkan daunnya, seperti
pada pembuatan bagan tadi dan di beri nomor urut. Dalam hal ini perlu
diperhatikan, bahwa jarak antara dua daun adalah 2/5 lingkaran, jadi
setiap kali
harus meloncati satu ortostik. Spiral
genetikya dalam diagram daun akan merupakan suatu garis spiral yang
putarannya semakin keatas digambar semakin sempit
a. Bagan duduk daun dengan rumus 2/5
b. Diagram daun dengan rumus 2/5
E. Spirostik dan Parastik
Garis-garis ortostik yang biasanya lurus
ke atas, dapat mengalami perubahan-perubahan arah karena pengaruh
bermacam faktor. Garis-garis ortostik dapat menjadi garis spiral yang
tampak melingkari batang pula. Dalam keadaan yang demikian spiral
genetik sukar untuk ditentukan, dan letak daun pada batang mengikuti
ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral tadi, keadaan ini
dinamai : Spirostik. Spirostik terjadi karena pertumbuhan batang tidak
lurus tetapi memutar. Akibatnya ortostiknya ikut memutar dan berubah
menjadi spirostik. Tumbuhan yang memperlihatkan sifat demikian,
misalnya:
ü Pacing (Costus spesiousus Smith), yang mempunyai satu spiriotik, hingga daun-daunnya tersusun seperti anak tangga pada tangga yang melingkar.
ü Bupleurum falcatum, yang mempunyai dua spiriotik
ü Pandan (pandanus tectoris Sol) yang memperlihatkan tiga spiriotik
Pada tumbuhan yang letak daunnya cukup
rapat ch. kelapa sawit (Elaeis guinensis), duduk daun seakan-akan
menurut garis-garis spiral ke kiri atau kekanan. Tampaknya lalu ada dua
spiral ke kiri dan kekanan. Garis-garis spiral ini disebut : Parastik.
Juga garis-garis spiral yang tampak pada buah nenas yang menunjukkan
aturan letak mata-mata pada buah nenas tadi adalah parastik-parastik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar